Cerita Kekejaman Raja Kertajaya Penyebab Kehancuran kerajaan Kediri

kerajaan kediri

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan yang telah ada sekitar abad 10 Masehi yang terletak di Jawa Timur. Dimasa silam, kerajaan ini memiliki pusat kota yang bernama Daha yang letaknya berada di sekitar kota Kediri saat ini.

Kerajaan Kediri adalah kerajaan yang bercorak Hindu yang berdiri sekitar 1045 – 1222 Masehi. Selain Bernama kerajaan Kediri, kerajaan ini juga di kenal dengan nama Panjalu dan Dhaha.

Menurut bukti sejarah yang ditemukan, kerajaan ini adalah satu dari dua kerajaan yang merupakan pecahan dari kerajaan Kahuripan pada tahun 1045.

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang dahulu dipimpin oleh Airlangga yang dibagi menjadi dua yang diberikan kepada kedua anaknya.

Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua disebabkan oleh sikap kedua putera nya yang saling bersaing memperebutkan tahta untuk menggantikan ayahnya kelak.

Airlangga sendiri setelah membagi kerajaannya menjadi dua, ia memutuskan untuk turun tahta dan mengasingkan diri menjadi seorang petapa.

Pembagian Kerajaan Kahuripan

Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang pemuka agama Hindu atau Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yang bernama Mpu Bharada.

Kedua kerajaan yang telah dibagi tersebut yakni Kerajaan Jenggala(Kahuripan) dan kerajaan Panja(Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas sebagaimana dituliskan didalam prasasti Mahakabya, kitab Negarakertagama dan kitab Calon Arang.

Kerajan Panja diberikan kepada putra yang bernama Sri Samarawijaya yang berpusat di satu kota yang baru dibentuk yang bernama Daha.

Luas daerah kekuasaan kerajaan Panjalu meliputi area Kediri dan daerah Madiun.

Sedangkan kerajaan Janggala diserahkan kepada putra yang bernama Mapanji Garasakan yang berpusat di kota yang lama yaitu Kahuripan.

Luas wilayah kerajaan Janggala meliputi daerah Malang, sungai Brantas, Rembang dan Pasuruan.

Sejarah Kerajaan Kediri

sejarah kerajaan kediri

betulcerita.blogspot.com

Meskipun kedua kedua kerajaan telah dibagi secara adil, kedua anak Airlangga masih merasa memiliki hak penuh atas keseluruhan kerajaan Airlangga.

Hal tersebut akhirnya menimbulkan ketegangan antara kedua raja yang bersaudara tersebut hingga akhirnya terjadi peperangan antara keduanya.

Ketegangan antara kedua kerajaan tersebut menyebabkan kerusuhan serta menjadikan kerajaan Panjalu (Kediri) terus dilanda kecemasan sebab merasa terus dibayang bayangi oleh kaum Jenggala.

Dimasa awal-awal ketegangan antara kedua kerajaan Kerajaan, Jenggala terus memberikan tekanan kepada kerajaan Panjalu.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kondisi menjadi berubah berbalik arah dimana setiap peperangan dimenangkan oleh kerajaan Panjalu.

Kemenangan demi kemenangan yang di raih kerajaan Panjalu menjadikan kerajaan tersebut perlahan-lahan menguasai hampir seluruh kerajaan Airlangga sampai akhirnya menguasai sepenuhnya tahta keajaan Airlangga tersebut.

Dengan demikian Berdirilah kerajaan Kediri di Jawa Timur sebagaimana yang terlihat dari bukti-bukti sejarah seperti prasasti-prasasti dan melalui kitab-kitab sastra kuno.

Kitab sastra yang menuliskan sejarah tersebut diantaranya adalah kitab Kakawinan Bharatayudha yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang banyak bercerita mengenai kemenangan kerajaan Pajalu/Kediri atas kerajaan Jenggala.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah Kerajaan Kediri

Dalam Sejarah kerajaan Kediri dari awal berdirinya hingga runtuhnya, kerajaan ini mengalami beberapa pergantian raja, diantaranya adalah:
Sri jayawarsa (1104-1115)

Kameswara I (1116-1135)

Sarweswara (1159-1161)

Aryaaswara (1171-1174)

Gandra (1181)

Kameswara II (1182-1185)

Kertajaya (1185-1222)

Masa Kejayaan Kerajaan Kediri

bukti kejayaan kerajaan kediri

surabaya.panduanwisata.id

Tak banyak bukti-bukti sejarah yang dapat menggambarkan periode-periode awal berjalannya kerajaan ini.

Dari bukti sejarah yang ditemukan, Raja Kameswara(1116 – 1136)menikahi Dewi Kirana yang merupakan Puteri kerajaan Jenggala.

Pernikahan tersebut akhirnya menyambungkan kembali hubungan antara kedua kerajaan yang pernah bersitegang tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Kediri perlahan-lahan menjadi kerajaan yang kuat di Jawa Timur.

Hal tersebut tertulis didalam kitab Kakawin Smaradahana yang ditulis oleh Mpu Dharmaja yang dalam kesusasteraan jawa dikenal dengan cerita Panji. Selai itu, bukti kebesarannya juga tertulis didalam kitab Kakawin Lubdaka dan Wetasancaya.

Raja Kediri yang paling terkenal adalah Raja Jayabaya yang memimpin Kediri pada tahun 1135 – 1159. Konon kabarnya Raja Jayabaya dikenal memiliki kemampuan meramal masa depan.

Pada masa pemerintahannya, Kediri melakukan perluasan wilayah hingga ke pantai Kalimantan hingga Ternate.

Di zamannya pula lah tercatat dalam sejarah Kerajaan Kediri bahwa ia membentuk kekuatan armada laut yang sangat tangguh.

Dia Juga lah yang memerintahkan Penggubahan Kakahwin Bharatayuddah yang di lakukan oleh Mpu Sedah dan kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh hingga selesai.

Didalam catatan sejarah Kerajaan Kediri tercatat bahwa puncak keemasan kerajaan ini tercapai dibawah kepemimpinan Raja Jayabaya.

Selain cakap dalam urusan kenegaraan, Raja Jayabaya juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kesenian dan sastra.

Dimasa kepemimpinannya dunia seni dan sastra mengalami perkembangan yang sangat pesat khususnya karya-karya para pujangga.

Selain itu, Raja Jayabaya juga membuat takjub banyak orang dengan kemampuan meramalnya yang sangat akurat. Bahkan ramalan-ramalannya akhirnya dikumpulkan menjadi satu dalam satu kitab yang bernama kita Joko Joyoboyo.

Sikapnya yang sangat merakyat menjadikan dia sangat dicintai rakyatnya sehingga mendapatkan banyak dukungan dalam membawa kerajaan ini menuju puncak keemasaannya.

Kejayaannya terus berlanjut hingga pergantian kursi kekuasaan yang diturunkan kepada raja berikutnya yaitu kepada Prabu Sarwaswera.

Runtuhnya Kerajaan Kediri

Kejayaan kerajaan Kediri mulai meredup sejak dipimpin oleh prabu Sarwaswera yang akhirnya ditundukkan oleh raja Kertajaya.

Raja Kertajaya Mengambil alih kekuasaan kerajaan pada tahun 1185 hingga 1222.

Raja Kertajaya terkenal memerintah dengan sangat kejam. Kekejaman raja Kertajaya akhirnya mencapai puncaknya saat mendapatkan perlawanan dari Kaum Brahmana.

Perlawanan kaum Brahmana terhadap Raja kertajaya bukannya tanpa alasan. Hal tersebut terjadi saat raja Kertajaya yang memimpin Kerajaan Kediri saat itu memaksa para pemeluk agama Hindu saat itu untuk menyembahnya sebagai Dewa.

Masyarakat Kediri yang saat itu adalah pemeluk agama yang taat tentulah menganggap hal tersebut melanggar aturan agama sehingga memancing pertentangan yang tidak kunjung usai.

Dalam pertentangan yang cukup panjang tersebut, akhirnya kaum Brahmana meminta perlindungan pada Akuwu Tumpel atau Ken Arok.

Puncak perseteruan antara raja dan kaum Brahmana terjadi pada sebuah pertempuran di desa Ganter pada tahun 1222 M.

Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel atau Ken Arok untuk merebut keududukannya.

Dipertempuran tesebut Ken Arok berhasil membunuh Penguasa Tumapel Tunggul Amateul dan kemudian mendirikan kerajaan Singasari pada tahun 1222.

Selanjutnya Ken Arok terus melancarkan pemberontakannya terhadap kerajaan Kediri dengan bekerja sama dengan para kaum Brahmana.

Pemberontakan yang terus dilancarkan oleh Ken Arok bersama para kaum Brahmana akhirnya berhasil dengan terbunuhnya Raja Kertajaya.

Kemenangan tersebut menjadikan kerajaan Kediri harus tunduk dibawah kekuasaan rasa Singasari.

Seiring berjalannya waktu, kerajaan Singasari juga mengalami pergolakan internal yang membuka peluang bagi raja Kediri pada saat itu yaitu Raja Katwang untuk menyusun kembali kekuatan dan memberontak terhadap kerajaan Singasari.

Pemberontakan Raja Katwang tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah dibantu oleh Bupati Sumenep dan menjatuhkan Kertanegara.

Pada tahun 1929 Raja Katwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali sejarah kerajaan Kediri yang baru.

Namun, Berdirinya kembal kerajaan ini tidak bertahan lama sebab kembali mendapatkan serangan dari tentara mongol yang bekerajasama dengan pasukan Singasari yang dipimpin oleh Raden Wijaya.

Sejak saat itu tidak tidak ada lagi bukti sejarah  kerajaan Kediri selanjutnya.

Itulah sejarah singkat mengenai sejarah kerajaan Kediri, semoga bermanfaat.

You Might Also Like

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>